
KONOHA Bantaeng, Hari Jum’at 21 Pebruari 2026, Di depan gerbang SPBU Pertamina Parasula Bantaeng, Sebuah tabir gelap terbuka lebar. Kami datang bukan sekadar membawa poster, melainkan membawa jeritan rakyat kecil yang haknya dirampas oleh tangan-tangan kotor mafia BBM subsidi.
Namun, apa yang kami temui bukan sekadar tembok korporasi yang dingin, melainkan intimidasi fisik dari preman-preman pesanan yang diduga kuat adalah kaki tangan mafia solar.
Kalimat diatas pengantar yang diutarakan Alif Mualana, (Ketua Cabang Balla’ Tujua HPMB-Raya) sebagai gambaran yang dialami saat melakukan aksi nyata menyuarakan jeritan masyarakat sebagai bagian dari alasan turunnya melakukan gerakan untuk menghentikan praktek mafia solar yang dinilai tak terbendung di Kabupaten Bantaeng.
Tak pelak, Pemandangan yang lebih menyakitkan daripada bogem mentah atau makian menurut ALIF, adalah sikap aparat kepolisian yang berada di lokasi.
“Mereka yang seharusnya menjadi benteng terakhir hukum justru terlihat tegak berdiri sebagai ‘penonton bayaran’, Ketika massa aksi diserang dan diprovokasi oleh oknum agresif.”, Ungkap Alif dalam release date pada media KONOHA
Alif mengatakan, Polisi seakan-akan mengalami kelumpuhan kolektif. Di mana jargon Presisi? Di mana janji melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat sesuai amanat Pasal 13 UU No. 2 Tahun 2002?.
“Pembiaran ini bukan sekadar kelalaian prosedur, ini adalah sinyal bahaya bagi demokrasi. Jika aktivis yang menyuarakan kebenaran dibiarkan dikeroyok oleh perpanjangan tangan mafia di depan mata aparat, maka pertanyaan besarnya adalah Siapa yang sebenarnya memegang kendali di negeri ini? Apakah Polisi takut pada mafia, atau memang sudah ada ‘akad’ yang membuat hukum harus tutup mata?.”, Terang Alif
“Kami tidak akan mundur. Penyelewengan BBM subsidi adalah kejahatan luar biasa yang memiskinkan rakyat. Jika Polisi tetap memilih menjadi “satpam” bagi kepentingan gelap mafia daripada menjadi penegak hukum yang berintegritas, maka jangan salahkan jika rakyat menyimpulkan bahwa seragam cokelat itu kini telah berganti warna menjadi pelindung para penimbun solar,” Sambung Alif
“Olehnya itu kami menuntut Kapolda segera mengevaluasi personel di lapangan yang melakukan pembiaran.Usut tuntas keterlibatan oknum aparat yang diduga membekingi mafia BBM”, Ujar Alif
Dia berpendapat, Negara harus membuktikan bahwa hukum masih lebih kuat daripada uang haram hasil selundupan solar.
(Red.Konoha media)
“Hukum tidak boleh kalah oleh intimidasi. Polisi tidak boleh diam saat rakyatnya disakiti. Karena diamnya polisi di tengah kekerasan adalah pengkhianatan terhadap konstitusi”,Tutup Ketua Cabang Balla’ Tujua, Alif maulana.

